Saya Pikir, Ini Bukan Rahasia Lagi



ini logo yang saya buat, bahkan saya sendiri lupa filosofisnya apa :(

Saya mem-flash back kejadian 3 tahun silam yang saya alami. Mungkin teman-teman tahu, bahkan lebih ingat dari saya kejadian spontan ini. Saya katakan, ini tidak ada rekayasa atau konspirasi untuk membuat suasana. BEM TPB 45, adalah satu-satunya Badan Eksekutif Mahasiswa yang pernah saya ikuti. Tidak pernah lagi. Sekalipun tidak pernah lagi saya berniat masuk ke dalam tataran pengurus BEM. Apapun alasannya.
 
Pengumuman kepengurusan telah tiba. Saya takjub nama saya tercatat sebagai pengurus di organisasi eksekutif itu.
 
“Nama lu mana, Fa?”
 
“Itu”, seraya menunjuk.
 
“Ini siapa sih kadep gw?”
 
“Mana gw tau, gw aja nggak tau kadep gw siapa. Tiba-tiba aja.”

............
 
Ini cerita tentang kumpul perdana BEM
 
               “Selamat datang para pejuang!” Sambut ketua BEM (sebut saja beliau Awan)
Lama ia bercakap, hingga akhirnya, dia mengenalkan para kadep (kepala departemen, red). Satu per satu di kenalkan dengan gayanya masing-masing. Saya hanya memperhatikan dengan penuh tanda tanya.
 
                “Oke, semoga kita bisa berjuang bersama. Bukan kerja bersama, tapi bekerja sama”
 
Lantas saya mengacungkan tangan.
 
               “Awan... Awan...”
 
               “Iya, kenapa, Fa?” tanyanya heran sambil menoleh.
  
            “Maaf, saya ingin bertanya. Mereka yang menjadi kadep di hadapan kami tadi dipilihnya bagaimana ya? Saya bingung aja. Kenapa tiba-tiba langsung ada kadep? Bagi saya pribadi, saya tidak bisa bekerja jika saya tidak mengenali kadep saya. Bagaimana nanti kedepannya?” Agak lantang memang saya berbicara kali itu. Ternyata bukan saya saja yang menyimpan suara hati itu. Ada. Ada 2 orang lagi yang menyerukan hal yang sama. Bagi saya ini murni ketidaktahuan.
 
                Lantas apa? Semua pengurus baru BEM menatap saya. Saya masih ingat sekali tatapan-tatapan tidak suka itu. Jelas sekali. Bahkan, saya masih ingat sekali saat itu angin tiba-tiba seperti terasa aneh. Diam. Awan lantas berdiri,
 
                “Kenapa menanyakan hal itu, Alfa?”
 
               “Ya, jelas. Saya heran aja.”
 
              “Baiklah” Awan menghirup napas dalam-dalam, “Kita tanyakan saja kepada kadep-kadepnya, siapa yang mau duluan?” Ada yang menunjuk jari. Berdiri dia. “Saya disini tidak mencalonkan diri. Tapi dipilih untuk mengemban amanah ini. Jadi, jangan pikir saya mau dengan posisi kadep ini. Begitu juga dengan kadep-kadep yang lain!” Agak emosi rupanya. Kadep-kadep yang lain menyambung. Kecuali satu kadep. Ah, sudahlah tidak usah saya bahas siapa orangnya. Nanti justru panjang urusannya.
 
           “Ya sudah, begini saja” ada seseorang yang menengahi, “kita diskusikan ke dalam departemen masing-masing. Kalian berdua yang tadi juga protes. Ayo kita rundingkan.” Di bagilah kami menjadi 4 kelompok. Satu kelompok besar. Tiga yang melakukan diskusi di departemen masing-masing.
   
      “Nah, tadi Alfa sudah membeberkan apa masalahnya. Sekarang mau kita diskusikan. Sebaiknya bagaimana. Dari Alfa dulu deh.”
Saya membaca raut wajah mereka. Ya, kekesalan itu. Menganggap saya ingin menjadi kadep. Tidak. Tidak sekalipun. Kalaupun saya diminta menjadi kadep. Saya urungkan niat untuk menjadi pengurus BEM. Kenapa? Ada cerita lagi di balik itu.
 
            “Ya, saya sebenarnya hanya ingin meminta kejelasan saja. Ada apa sebenarnya?”
 
           “Jadi, gini. Awan itu mempunyai hak prerogatif untuk memilih siapa pun kadepnya. Jadi mau diketahui atau tidak oleh kita. Itu urusan dia. Sudah diatur juga di dalam undang-undang DPM. Bahkan kalau dia mau, semua pengurus ini bisa dia rekrut semua tanpa pendaftaran.”
 
Saya mulai mengangguk.
 
Dia bertanya lagi, “atau alfa pengen jadi kadep?”
 
Saya tersentak. Bagaimana mungkin?
 
“Saya sih tidak apa-apa kalau Alfa mau jadi kadep. Saya juga masih belum merasa pantas untuk menjadi kadep di sini”
 
“Ya, kembalikan lagi sama forum” katanya.
 
“Kami sih percayanya dengan kadep kami yang sekarang” teman-teman berbicara.
 
Pikiran saya masih kosong. Antara percaya dan tidak percaya dengan kejadian di depan ini.
 
“Saya nggak bermaksud gitu. Hanya meminta kejelasan saja. Kalau teman-teman percaya dengan kadep yang sekarang ya silahkan.” Malu sebenarnya saya berbicara seperti itu.
 
“Oke, udah clear kan?” kita kembali lagi ya.
 
........
 
Tibalah di beberapa saat perpisahan teman-teman BEM. Jujur, kami sangat merindukan kadep kami. Sangat kami hormati. Mungkin dia ada urusan lain yang harus diurusi. Ya, kami menghormati itu. Jadilah kami berjalan dengan tonggak kepemimpinan serampangan. Masih dengan sekertaris yang setia menemani.
 
Saya dan teman saya yang waktu tidak ikut kumpul perdana BEM (sebut saja Angga. Hehe) memposisikan diri sebagai pencair suasana. Eh, enggak juga sih. Semuanya kayaknya cair deh. Kecuali 2 anak IPA. Ya, kami menyebutnya anak IPA karena selalu serius. Sedangkan kami bertujuh, selalu cengengesan. Rapat nggak jelas. Ngalor ngidul. Tapi suasana persahabatannya kerasa banget. Kehujanan bareng. Presentasi ke perusahaan bareng. Makan bareng. Ini sering sekali.
 
Ada tawaran dari Awan, “Mau ganti kadep nggak nih, teman-teman BOS?” Itu sebutan departemen kami. Budaya Olahraga dan Seni. “Enggak. Nggak usah. Kami biasa menjadi kumpulan, bukan departemen. Hahaha”
 
Suatu hari, awan memanggil saya untuk berbicara. Entah kenapa, Awan ini dekat betul dengan saya belakangan ini. Senangnya merangkul saya, membuat saya merasakan mendapat sahabat baru yang ramah. “Fa” sambil menghela napasnya, “Alfa masih ingat kan kejadian pertama di BEM?”
 
Saya hanya tersenyum.
 
“Saya sebenarnya tidak punya hak atas itu”
 
Saya tersadar. Perlahan saya memperhatikan lawan bicara saya, Awan.
 
“Iya, Fa.” Dia merangkul bahu saya.
 
“Ada orang di belakang saya, Fa. Kamu pasti tahu lah” senyumnya damai.
 
“Maksud Awan?” Saya memastikan.
 
“Ya, yang memilih kadep-kadep itu bukan hak prerogatif saya. Saya sebenarnya sudah punya rancangan kabinet saat itu” Dia menyebutkan nama-nama sahabatnya yang akan dimasukkan ke kabinet. Saya tidak pernah berharap nama saya pun disebutnya. Mungkin dia hanya menghibur saja. Ya, saya tidak pantas menjadi kadep.
 
“Ini semacam intervensi?”
 
Awan tersenyum. “Bukan. Ini namanya pergerakan kampus, Fa.”
 
“Oh...”
 
“Tapi, ya sudahlah. Saya juga tidak bisa apa-apa”
 
Ingin sekali saya berkata kepada awan. ‘saya bahkan sudah tahu, sejak sebelum kamu naik menjadi ketua BEM, Awan.’ Hanya saja, saya berhipotesa, ini tidak baik untuk diperpanjang urusannya. Penutupan yang indah ketika saya mendengarkan kebenaran langsung dari sumber yang tepat. Ya, bersemilah sebuah politik pergerakan kampus.
 
......... .
 
Sebuah intervensi seperti ini sangat banyak saya temukan di pergerakan-pergerakan kampus. Bahkan mungkin, saya korbannya. Saya yang polos dan tidak tahu apa-apa, tidak pernah mau diberi tahu rahasia-rahasia ini. Didikte begini begitu. Ah, untuk apa? Pergerakan kampus katanya. Dikte? No. I said no. Saya punya cara sendiri.
 
Malam itu. Mungkin saya dicap sebagai pembuat masalah. Ya, si Alfa pembuat masalah. Bahkan hingga saat saya menuliskan catatan ini. Saya masih dianggap sebagai seorang pembuat masalah. Bahkan lebih. Tapi, tidak mengapalah. Lebih baik melawan walau tertawan. Lebih baik memiliki pendirian dari pada berdiri pada pijakan orang lain.
 
....

 
Mohon maaf apabila ada yang tersinggung, karena saya yakin ada banyak yang tersinggung jika tidak menikmati tulisan saya ini dengan bijaksana. Tidak ada niat untuk menyakiti. Mari kita belajar untuk menjadi seorang yang berjiwa besar. Termasuk pembelajaran penting bagi saya.

Wallahu’alam.
Semoga bermanfaat.

1 komentar:

  1. Hai kak, maaf nih jd kepoin tulisannya kakak. tp tulisan memang utk dibacakan? *pembenaran
    jd kk dl jg bem tpb tah? sama kak angga yg bos berarti. ini kejadian sama dg yg desi rasakan dulu pas awal kumpul bem. cm kalau desi diem aja, dan ternyata pertanyaan itu terjawab seiring waktu. mereka2 memang pantas dan cocok jd kadep dan sekdep.
    pengalaman yg bagus masa2 bem tpb itu. :D

    BalasHapus

 

Instagram

Populer

Kategori

AEC (6) Aksel Zoo (3) Asean (2) bima (1) buku (3) CAFTA (2) cerpen (4) cool (1) curhat (5) election (1) Experience (17) Filsafat (2) fotografi (5) history (2) hobby (7) Ilmu (2) indah (1) indonesia (13) industri (4) inspirasi (18) islam (3) joke (1) Kebudayaan (12) kenangan (1) kritisi (22) Leadership (20) mahesa (17) marketing (3) Moral (49) movie (1) pendidikan (4) Pergerakan (14) photography (1) pilpres (2) politik (1) prinsip (12) quote (4) sejarah (4) share (71) Shuttlers (1) thailand (13) tokoh (3) travel (4)

Pengunjung

Pengikut