Habibie Ainun, dan Amien Rais



Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada sosok yang menginspirasi saya sejak duduk di taman kanak-kanak. BJ. Habibie. Beliau yang membuat saya terlihat keren (menurut saya) dan cupu (menurut teman-teman). “Apa cita-citamu, Aldian?” Astronout. “Kenapa?” pengen kayak Habibie, jawab saya lugas. Belakangan, baru saya sadari, tidak ada nama Habibie dalam daftar pegawai NASA.

Saya bukan pecinta film cengeng. Saya juga kurang suka film romantis-romantisan. Tetapi saya juga bukan pecinta film action. Saya hanya menyukai 2 film, satu tentang refleksi masa lalu. Dan dua yang menuntut otak untuk berpikir dalam memahaminya.

Sekilas, potret film Habibie Ainun adalah tentang romansa cinta. Ada Habibie, ada Ainun, ada cinta, ada rumah tangga. Biasa saja. Ternyata bukan hanya itu saja. Banyak makna yang tergali dalam film tersebut.
 
Menurut saya, salah satunya Habibie ingin menyampaikan, Rezim orde baru tidak semuanya bernilai negatif. Sepertinya pak Habibie ingin mengatakan, “Apa yang kalian peroleh dan nikmati sampai saat ini, tidak lepas dari apa yang dibangun oleh sejarah, termasuk orde baru.”
 
Saya jadi teringat kata-kata orang Jerman, “Kami tidak pernah menyalahkan Hitler. Meskipun dia melakukan kejahatan HAM masa lalu, itulah Hitler, bagian dari sejarah kami. Jerman tidak akan bisa seperti ini tanpa sumbangsih dia.” Begitupun Suharto.
 
Pendudukan gedung MPR RI tahun 1998 pun, tidak semuanya bernilai positif. Tampak Habibie ingin bercerita, beliau bersih dari kejahatan orde baru. Tanpa pembelaan pun, saya percaya beliau bersih.
 
Dalam tayangannya, beliau menampilkan tentang keseriusannya memecahkan konflik bangsa, hingga hanya menyempatkan waktu untuk tidur 1 jam setiap harinya selama sebulan. Beliau juga menolak untuk menerima suap oleh seorang oknum (yang saya percaya itu adalah Tomy Suharto), dengan jam tangan, uang, bahkan wanita sekalipun. Sayangnya, Rumah Habibie didemonstrasi lantaran dianggap telah dibangun dari uang korupsi. Padahal, rumah itu dibangun jauh sebelum beliau menjadi mentri.
 
Terus terang saja, seusai menonton film ini, rasa tidak suka saya kepada Amien Rais bertambah. Politik talik ulur dia saya anggap tidak bertanggung jawab. Terutama pada adegan Pesawat IPTN Gatotkoco yang tidak lagi beroperasi. Padahal, cita-cita Habibie yang paling besar adalah membangun industri Infrastuktur Pesawat terbang di setiap pulau di Indonesia.
 
Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana majunya Indonesia kala itu terjadi. Saat pemimpin Indonesia mengatakan tidak kepada Amerika. Saat orang asing berkepentingan tidak mampu menyuap. Bukti gampangnya saja, Habibie mampu menurunkan secara drastis nilai tukar rupiah terhadap dolar dalam waktu singkat.
 
Muncullah sosok Amien Rais. Saya tidak tahu menahu tentang politik yang bermain di belakangnya. Tuntutan peran lah. Provokasi lah. Lobi politik luar negeri lah. Atau apa lah itu. Penuduhannya sederhana, Wilayah Timur-timur dibiarkan merdeka. Ini dikata mengancam ketahanan NKRI.
 
Hey, Bung, lihat saat ini, bukan saja pulau-pulau yang di daulat oleh negara lain secara diam-diam, bahkan hasil kebudayaanya pun di ambil paksa. Kenapa SBY tidak diturunkan saja? Dengan tuduhan yang sama dengan Habibie. Padahal, sudah jelas, Timur-timur tidak terikat secara historis yang kuat dengan Indonesia. Kalau mengacu kepada sebab terbentuknya Indonesia, kita beda perjuangan, dan sekarang mereka meminta merdeka.
 
Dan ingat satu lagi, kemelut politik pasca orde baru sedang tidak stabil. Wajar jika Habibie memprioritaskan untuk hal lain, yang menurutnya lebih penting dari pada sekedar mempertahankan wilayah yang jelas-jelas ingin merdeka setelah sekian lama “Numpang Merdeka”.
 
Okelah, Habibie pun copot dari jabatannya. Mungkin ini jauh lebih baik karena beliau bisa lebih tenang. Mungkin orang yang secara sah menurunkannya punnya cara lain. Apa yang dilakukan Amien Rais? Saya pikir, beliau akan maju menggantikan Habibie, karena reputasinya sangat kuat untuk menjadi presiden. Tidak. Dia malah tidak mengambil amanah itu.
 
Menurut saya, ini tindakan tidak bertanggung jawab, di luar konsep politik yang dipegangnya. Mungkin dia khawatir masih di anggap antek orde baru. Mungkin. Beberapa tahun kemudian, dia mencalonkan diri lagi menjadi presiden. Jelas kalah. Rakyat tak percaya orang yang lari dari masalah.
 
Tapi, ya, inilah Amien Rais. Dia pun menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia. Tidak akan ada “reformasi” (meskipun saya mempertanyakan cara mengisi reformasi ini) tanpa Amien Rais.
 
Wallahu’alam. Ini hanya respon saya seusai menonton Film Habibie Ainun. Memang banyak pelajaran yang bisa diambil. Why you so serious? :p

2 komentar:

  1. nice,memang setelah nonton ainun habibi bertambah semakin sedih saya,btapa saya menyadari bahwa negara ini tidak mampu menampung orang2 pintar seperti beliau, betapa banyak yang qta anggap negatif ternyata menyisakan kisah tersendiri sehingga menguak sangkaan negatif itu.
    semoga kembali muncul orang2 ikhlas seperti beliau,tidak hanya ikhlas tapi memiliki power.
    salam kenal mas...:)

    BalasHapus
  2. Hi, pakdhe. Ya, sangat sulit memang menemukan sosok sepantaran pak Habibie ini. wajar saja saya negfans beliau dari dulu, bukan karena pesawat terbangnya saja, tapi banyak hal.

    Ya, salam kenal pakdhe. :)

    BalasHapus

 

Instagram

Populer

Kategori

AEC (6) Aksel Zoo (3) Asean (2) bima (1) buku (3) CAFTA (2) cerpen (4) cool (1) curhat (5) election (1) Experience (17) Filsafat (2) fotografi (5) history (2) hobby (7) Ilmu (2) indah (1) indonesia (13) industri (4) inspirasi (18) islam (3) joke (1) Kebudayaan (12) kenangan (1) kritisi (22) Leadership (20) mahesa (17) marketing (3) Moral (49) movie (1) pendidikan (4) Pergerakan (14) photography (1) pilpres (2) politik (1) prinsip (12) quote (4) sejarah (4) share (71) Shuttlers (1) thailand (13) tokoh (3) travel (4)

Pengunjung

Pengikut