Ujian Kepemimpinan


Setiap bulan ramadhan, kita diingatkan dengan momentum penting mematangkan diri. Bukan semata menahan haus dan lapar serta perkara yang membatalkan puasa, melainkan kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu dan mencapai kematangan jiwa sebagai tujuan utama ibadah Ramadhan. Itulah pesan yang tersurat dalam firman suci: "Wahai hamba-hamba yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi hamba yang bertaqwa" (Al Baqarah: 183).


Bagi seorang pemimpin atau calon pemimpin, kemampuan mengendalikan diri (self-control) menjadi andalan utama disamping kemampuan mengenali potensi diri (self-assessment), merealisasikan potensi yang dimiliki (self-actualization), merawat dan meningkatkan kemampuan diri (self-improvement). Dalam setiap proses yang dilalui terdapat ujian yang menandai bahwa seseorang telah mencapai kapasitas tertentu dam terus menuju kapasitas yang lebih maju. Bak kita berziarah ke suatu tempat dengan menggunakan kendaraan umum, maka kita akan berhenti dari suatu halte ke halte yang lainnya. Hingga turun di halte lain yang dituju.

Perjalanan hidup meraih cita-cita atau menunaikan misi perjuangan sesungguhnya mirip dengan perjalanan mengelilingi kota. Kita menghadapi pelbagai ujian sebelum mencapai cita-cita atau menuntaskan misi tertentu. Menarik jika kita menyimak perjalanan hidup Rasulullah SAW sebagai penutup para Nabi. Muhammad dilahirkan dalam keadaan yatim. Lalu menjadi piatu dalam usia kanak-kanak, dan dibesarkan oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Di situ terlihat bahwa ujian telah dirasakan Muhammad sejak masa bocah. Beliau bukan anak kesayangan mama-papa yang dibuai dengan kemewahan hidup.

Masa remaja pun dilalui Muhammad dengan penuh perjuanga, bukan hura-hura. Beliau biasa mengembalakan hewan ternak milik keluarga atau titipan tetangga. Selain itu, beliau juga diajak berniaga dengan pamannya, Abu Thalib, hingga pergi jauh ke negeri Syam (Suriah). Pada tahap ini terungkap bahwa sebagian calon pemimpin dan pembimbing seantero manusia, maka Muhammad harus memiliki wawasan luas dan bergaul dengan berbagai berbagai kelompok masyarakat. Persiapan itu telah dilalui Muhammad dalam masa emas (golden age) dari perjalanan hidupnya.

Pada usia dewasa, Muhammad diakuui sebagai "Al Amin" (The Trustworthiest person), hingga menikahi perempuan terpandang di lingkungannya. Lima belas tahun kemudian, ia dilantik sebagai Nabi terakhir oleh Allah Azza wa Jalla di Gua Hira, tepat tanggal 17 Ramadhan, hari diturunkan-Nya ayat Al-Qur'an. Jelas sekali, seseorang harus mendapatkan kepercayaan dari sesama manusia sebelum dipercaya olah Zat Yang Mahakuasa. Dengan kesadaran itu, kita membina diri agar memperoleh kepercayaan publik melalui kompetensi dan kontribusi nyata. Inilah ujian yang harus kita lalui secara individual maupun organisasional demi memenuhi amanah kepemimpinan nasional.


Sumber: Regenerasi Kepemimpinan Bangsa (2009).


2 komentar:

  1. Akhirnya bisa buka blog ini

    tulisannya sistematis dan menarik
    hanya saja masih kurang greget
    *komentator abal - abal

    lanjutkan menulis bro!

    BalasHapus
  2. kereeenn,,
    sayangnya sy gag kterima masuk di YLI, , :(

    BalasHapus

 

Instagram

Populer

Kategori

AEC (6) Aksel Zoo (3) Asean (2) bima (1) buku (3) CAFTA (2) cerpen (4) cool (1) curhat (5) election (1) Experience (17) Filsafat (2) fotografi (5) history (2) hobby (7) Ilmu (2) indah (1) indonesia (13) industri (4) inspirasi (18) islam (3) joke (1) Kebudayaan (12) kenangan (1) kritisi (22) Leadership (20) mahesa (17) marketing (3) Moral (49) movie (1) pendidikan (4) Pergerakan (14) photography (1) pilpres (2) politik (1) prinsip (12) quote (4) sejarah (4) share (71) Shuttlers (1) thailand (13) tokoh (3) travel (4)

Pengunjung

Pengikut